Announcement
Newsletter
Contact Us
News
Laporan Hasil Pelatihan Hipnoterapi 100 Jam
Wednesday, 19 November 2008
Di bulan Oktober dan November 2008 ini saya menyelenggarakan kelas pelatihan sertifikasi hipnoterapis 100 jam melalui lembaga Quantum Hypnosis Indonesia. Workshop dilaksanakan secara paralel di Jakarta dan Surabaya.
Yang membuat saya benar-benar bahagia adalah apa yang diajarkan dapat benar-benar diterapkan dengan sangat berhasil oleh peserta pelatihan. Bahkan ada seorang peserta yang mempraktikkan ilmu hipnoterapi yang ia pelajari kepada 10 orang dan semuanya berhasil dibimbing masuk ke kedalaman Profound Somnambulism. Ini prestasi yang luar biasa.
Yang lebih dahsyat lagi baru melewati minggu pertama pelatihan saja rata-rata peserta workshop sudah mampu menerapi subjek dengan sangat berhasil. Padahal yang mereka lakukan hanyalah membawa subjek masuk ke kondisi Profound Somnambulism dan selanjutnya diberikan sugesti (Direct Suggestion) yang mereka baca dari Buku Patter Script yang memang sengaja saya siapkan untuk itu. Hal ini bertujuan agar peserta yang masih baru belajar hipnoterapi tidak perlu bingung menyusun sugesti.
Selain itu, peserta yang ikut pelatihan ini juga bukan orang sembarangan. Sama seperti angkatan pertama, angkatan 2 dan 3 ini pesertanya orang-orang luar biasa.
Ada seorang Ibu Pendeta, ada 2 dokter, ada pimpinan perusahaan besar, ada pimpinan perusahaan asuransi terkemuka, ada pimpinan bank besar, ada pengusaha, dan pribadi luar biasa lainnya.
Ini baru minggu pertama. Minggu kedua, selain melakukan review terhadap hasil praktik materi minggu pertama, saya mengajarkan berbagai teknik Restructuring yang lebih advanced. Selain itu dilakukan 2 (dua) live show ... eh salah.. maksudnya live therapy di kelas.
Untuk kelas yang di Jakarta, klien pertama adalah seorang pimpinan perusahaan yang punya income satu bulan bisa mencapai Rp. 50 juta plus bonus bisa mencapai Rp 250 juta. Namun tabungannya hanya ada Rp. 2,5 juta.
Saat saya melakukan terapi di kelas peserta pelatihan dapat melihat langsung bagaimana berbagai teknik terapi yang telah dijelaskan digunakan secara langsung dengan berbagai variasinya. Terapi saya selesaikan dalam waktu sekitar 1 jam 15 menit.
Klien kedua adalah seorang pemuda yang selalu merasa pusing jika masuk ke Resto Hoka-Hoka Bento. Kalau yang ini saya banyak bercanda dengan pikiran bawah sadar klien. Hal ini sengaja saya lakukan dengan tujuan memberikan kesan bahwa sebenarnya terapi tidak perlu serius-serius amat. Justru sebagai terapis kita bisa sangat menikmati apa yang kita lakukan.
Dalam sesi ini saya menunjukkan bagaimana 4 (empat) filter Pikiran Bawah Sadar bekerja optimal melindungi diri Klien walaupun klien dalam kondisi deep trance (Profound Somnambulism). Setiap perintah atau sugesti yang kita berikan kepada klien, dalam kondisi hipnosis atau trance, harus bisa diterima dan disetujui oleh 4 filter ini agar bersedia dilaksanakan oleh pikiran bawah sadar klien. Waktu yang dibutuhkan untuk menerapi klien kedua ini lebih singkat lagi. Hanya sekitar 45 menit.
Untuk kelas Surabaya saya menerapi seorang wanita yang sudah punya anak, usia 3 tahun, tapi takut punya anak lagi. Setiap kali melihat anak kecil klien ini pasti menangis. Ada ketakutan dan kesedihan saat melihat anak kecil. Akibatnya klien tidak berani hamil lagi, padahal ia sangat ingin punya anak lagi.
Klien saya terapi di kelas di depan peserta pelatihan. Hasilnya? Hanya dalam satu sesi klien berhasil dibantu menemukan akar masalahnya dan berhasil sembuh. Testimoni klien ini saya muat di Testimonials.
Klien kedua adalah seorang pria, usia sekitar 30 tahun, yang tidak bisa makan buah. Setiap kali mencium bau buah, hampir semua buah, apalagi kalau harus makan buah, maka ia pasti muntah.
Saat diterapi saya berhasil menemukan akar masalahnya. Awal mulanya terjadi saat klien berusia 4 tahun 5 bulan. Sebenarnya penyebabnya sangat sederhana. Pada usia ini ia mau makan mangga. Dan kakaknya, yang waktu itu berusia 6 tahun, meminta buah mangganya. Klien merasa jengkel. Apalagi kakaknya meminta sambil berbohong dan berkata, "Dik, buahnya itu nggak enak. Kasihkan kakak saja ya".
Akan sangat panjang bila saya harus menguraikan bagaimana mungkin hanya karena hal "sepele" ini bisa membuat klien "alergi" makan buah.
Singkat cerita selesai terapi saya langsung minta klien makan buah jeruk. Hasilnya? Klien sangat menikmati dan sama sekali tidak muntah.
Semua klien, baik yang di Jakarta maupun yang di Surabaya sangat berterima kasih untuk hasil terapi yang mereka alami. Ditambah lagi, karena ini untuk keperluan praktik dan contoh di kelas pelatihan, saya menggratiskan biaya terapi.
Namun sebenarnya saya yang harus berterimakasih kepada mereka.
Mengapa?
Karena justru tanpa klien-klien ini saya tidak bisa melakukan terapi di kelas. Tanpa kerja sama dan kesediaan mereka untuk saya terapi maka saya tidak bisa melakukan terapi dengan efektif.
Terapi adalah kontrak upaya yang melibatkan dua pihak, klien dan terapis. Dan tanpa kerjasama yang baik terapi tidak akan bisa berhasil.